Pengusaha ritel di Indonesia mengeluhkan kondisi mall yang semakin sepi, bahkan disebut-sebut seperti kuburan. Hal ini memicu para pengusaha untuk meminta bantuan kepada Presiden Joko Widodo atau Prabowo Subianto agar bisa mengatasi masalah tersebut. Kekhawatiran ini muncul setelah banyak pusat perbelanjaan mengalami penurunan pengunjung dan kekosongan tenant.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya. Dalam laporan Knight Frank Indonesia, dari total 4,3 juta m2 ruang ritel yang tersedia, sekitar 1 juta m2 masih kosong. Meski rata-rata hunian ritel mencapai 77,41%, angka ini menunjukkan bahwa ada banyak ruang yang belum terpakai. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi pelaku bisnis ritel.
Menurut Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, tren belanja online telah mengubah perilaku konsumen. Banyak orang lebih memilih berbelanja secara digital daripada datang ke mal. Selain itu, persaingan antar mall yang ketat juga menjadi salah satu faktor penyebab kekosongan tenant. Perilaku konsumen yang lebih suka melihat-lihat tanpa membeli (Rohana) turut memengaruhi okupansi tenan ritel.
Banyak pengusaha ritel menyatakan bahwa mereka kesulitan untuk bertahan dalam situasi ini. Tidak hanya karena penurunan pengunjung, tetapi juga kenaikan harga sewa dan service charge yang terus meningkat. Hal ini membuat biaya operasional meningkat, sementara pendapatan tidak sesuai harapan.
Pengusaha ritel juga mengeluhkan adanya efisiensi anggaran pemerintah yang diberlakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Meskipun efisiensi ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas fiskal, namun dampaknya terasa langsung pada sektor usaha kecil dan menengah. Beberapa pengusaha mengatakan bahwa efisiensi ini justru mengurangi peluang mereka untuk berkembang.

Dalam sebuah konferensi pers, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyampaikan bahwa efisiensi anggaran harus dibuka agar dapat menggerakkan perekonomian kembali. “Ritel itu senang kalau ada event-event Pak (Menteri UMKM). Jadi, mungkin nanti bisa efisiensi dilepas Pak untuk meramaikan ekonomi kembali,” ujarnya.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman juga menyambut baik ide ini. Menurutnya, efisiensi anggaran justru mendorong kreativitas. “Kami happy lho ada efisiensi karena kreativitas kami itu jadi keluar Pak. Jadi, memang orang itu Pak harus berada pada situasi zona tidak nyaman dulu supaya kreativitas,” jawab Maman.
Namun, meskipun ada upaya untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi, beberapa sektor tetap terdampak. Maman mengakui bahwa ada sedikit impact pada sektor tertentu, tetapi ia yakin dampak ini bisa dimitigasi dengan kebijakan yang tepat.

Selain itu, ada juga upaya-upaya dari pengelola mall untuk mengatasi masalah ini. Frank Tumewa, General Manager General Agency Knight Frank Indonesia, menyebutkan bahwa strategi manajemen setiap mall turut memengaruhi tingkat okupansi. Dengan menyesuaikan pasar dan melakukan inovasi, mall bisa menarik lebih banyak pengunjung.
Beberapa mall mulai memperkenalkan pop-up store dan ruang exhibition sebagai strategi untuk menarik tenan baru. Langkah ini diyakini bisa meningkatkan okupansi tenan ritel yang masih kosong dalam jangka panjang.
Meski banyak tenan yang kosong, Syarifah Syaukat memprediksi industri ritel akan mengalami peningkatan di akhir 2025. Hal ini didorong oleh momen liburan akhir tahun yang biasanya membawa banyak pengunjung ke mall.
Secara keseluruhan, kondisi mall yang sepi dan kekosongan tenant menjadi tantangan besar bagi pengusaha ritel. Namun, dengan adaptasi dan inovasi, peluang untuk bangkit tetap ada. Pengusaha ritel berharap pemerintah bisa memberikan dukungan yang cukup agar sektor ini bisa pulih kembali.










Leave a Reply