Keuangan.newsz.id

Portal Pengawasan Keuangan Negara

Fenomena ‘Doom Spending’: Mengapa Gen Z Habiskan Uang Karena Putus Asa Membeli Rumah?

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis harga properti yang semakin membelenggu, generasi Z di Indonesia mulai menunjukkan perilaku konsumsi yang tidak terkendali. Fenomena ini dikenal dengan istilah “doom spending”, yaitu kebiasaan berbelanja impulsif sebagai respons terhadap rasa putus asa atau stres finansial. Tidak hanya sekadar belanja untuk kebutuhan, banyak dari mereka menghabiskan uang dalam jumlah besar demi memenuhi keinginan sementara atau melarikan diri dari masalah.

Kondisi ini muncul akibat beberapa faktor, termasuk tingginya biaya hidup, kesulitan mencari pekerjaan tetap, serta ketidakmampuan untuk membeli rumah – salah satu aset paling penting bagi sebagian besar masyarakat. Dalam survei Jakpat, diketahui bahwa rata-rata Gen Z menghabiskan Rp414.309 per bulan untuk belanja online, angka yang meningkat 14% dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan berbelanja impulsif sudah menjadi tren yang sulit dihindari.

Kronologi Kejadian

Fenomena doom spending mulai marak di kalangan Gen Z sejak awal 2024, terutama setelah situasi ekonomi Indonesia mengalami tekanan akibat inflasi dan kenaikan harga bahan pokok. Banyak generasi muda merasa tidak memiliki jalan keluar dari tekanan finansial, sehingga cenderung menggunakan belanja sebagai cara untuk mengurangi stres. Misalnya, banyak dari mereka memilih membeli barang-barang mahal, seperti pakaian, elektronik, atau aksesori, meskipun tidak benar-benar membutuhkannya.

Selain itu, penggunaan fitur Buy Now Pay Later (BNPL) juga turut memperparah kondisi ini. Fitur ini memungkinkan pembelian tanpa harus membayar langsung, sehingga membuat orang lebih mudah terjebak dalam siklus utang. Di sisi lain, media sosial seperti Instagram dan TikTok juga menjadi faktor pemicu, karena tampilan gaya hidup mewah dari orang lain sering kali memicu rasa ingin ikut-ikutan.

Unsur KKN yang Dipermasalahkan

Meski tidak secara langsung berkaitan dengan korupsi, kolusi, atau nepotisme, fenomena doom spending bisa dilihat sebagai bentuk “korupsi” terhadap keuangan pribadi. Banyak Gen Z mengabaikan anggaran dan malah memilih berbelanja secara impulsif, yang pada akhirnya menyebabkan masalah keuangan jangka panjang. Selain itu, penggunaan kartu kredit dan pinjaman untuk pembelian yang tidak direncanakan juga bisa dianggap sebagai bentuk “kolusi” antara individu dan sistem keuangan yang tidak sehat.

Reaksi Publik & Media Sosial

Di media sosial, banyak netizen mulai mengkritik kebiasaan Gen Z yang terlalu fokus pada konsumsi. Beberapa komentar menyebut bahwa Gen Z terlalu cepat puas dengan barang-barang yang tidak bermanfaat, sementara ada yang menilai bahwa hal ini merupakan bentuk kecemasan terhadap masa depan. Namun, di sisi lain, banyak juga yang memahami bahwa keadaan ekonomi yang tidak stabil memang membuat orang sulit untuk mengontrol pengeluaran.

Pernyataan Resmi

Ahli ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa tingkat literasi keuangan di Indonesia masih rendah. Ia menjelaskan bahwa kurangnya pemahaman tentang manajemen keuangan membuat Gen Z lebih rentan terhadap perilaku seperti doom spending. “Jika literasi keuangan tidak ditingkatkan, maka fenomena ini akan terus berlangsung,” ujarnya.

Dampak & Implikasi

Fenomena ini memiliki dampak signifikan terhadap kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi dan keuangan. Jika Gen Z terus menghabiskan uang tanpa pertimbangan, maka risiko utang dan keterpurukan finansial akan semakin tinggi. Selain itu, dampak psikologis juga tidak bisa diabaikan, karena banyak dari mereka mengalami rasa bersalah setelah berbelanja impulsif.

Penutup

Saat ini, pemerintah dan lembaga keuangan sedang mencari solusi untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan Gen Z. Namun, sampai saat ini belum ada kebijakan yang secara spesifik mengatasi fenomena doom spending. Dengan situasi ekonomi yang masih tidak stabil, Gen Z kemungkinan besar akan terus menghadapi tantangan dalam mengatur keuangan mereka. Oleh karena itu, edukasi dan kesadaran akan pentingnya manajemen keuangan sangat diperlukan agar mereka tidak terjebak dalam siklus konsumsi yang tidak sehat.

Gen Z menghadiri seminar literasi keuangan

Gen Z menghabiskan uang untuk belanja online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *