Keuangan.newsz.id

Portal Pengawasan Keuangan Negara

Singapura Tarik Investasi dari RI Ini Kondisi Iklim Bisnis Indonesia Saat Ini

Singapura Tarik Investasi dari RI? Ini Kondisi Iklim Bisnis Indonesia Saat Ini

Kabar mengenai Singapura yang dikabarkan menarik investasi dari Indonesia memicu perhatian publik terhadap kondisi iklim bisnis di Tanah Air. Berbagai isu muncul, termasuk apakah ekosistem bisnis Indonesia sudah cukup menarik untuk investor asing. Dalam konteks ini, penting untuk melihat sejauh mana kesiapan Indonesia dalam mendukung pertumbuhan usaha dan daya tarik bagi investasi.

Bisnis Indonesia saat ini masih didominasi oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa lebih dari 99% unit usaha di Indonesia adalah pelaku usaha mikro. Pada 2023, jumlahnya mencapai 66 juta pelaku usaha, yang membuat sektor UMKM sangat diharapkan untuk menjadi tulang punggung perekonomian bangsa. Namun, meski UMKM berperan penting, tantangan dalam pengembangan usaha skala besar tetap ada.

Menurut laporan Business Ready 2024 yang dikeluarkan oleh World Bank, iklim bisnis di Indonesia memiliki beberapa indikator yang baik, seperti ketenagakerjaan dan layanan utilitas. Indonesia meraih skor tertinggi dalam indikator ketenagakerjaan dengan nilai 72,20, masuk top 10 negara di dunia. Sementara itu, dalam layanan utilitas, Indonesia meraih skor 70,55, masuk kelompok kedua terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa sektor tenaga kerja dan fasilitas dasar telah mendapat perhatian yang cukup baik.

Namun, beberapa indikator lain masih perlu diperbaiki. World Bank menyoroti perlunya peningkatan dalam layanan keuangan, regulasi perpajakan, prosedur kepailitan, serta inovasi. Tidak adanya pusat transfer teknologi khusus, pendaftaran agunan yang tidak berdasarkan pengumuman, dan tidak adanya regulasi kepailitan khusus menjadi hal yang digarisbawahi dalam laporan tersebut.

Dari tiga pilar utama dalam evaluasi iklim bisnis—kerangka regulasi, layanan publik, dan efisiensi operasi—Indonesia mencatatkan skor yang fluktuatif. Untuk kerangka regulasi, skornya mencapai 63,98, masuk jajaran kelompok keempat terbaik. Layanan publik berada di peringkat ke-13 global dengan skor 63,44, sedangkan efisiensi operasi mengantarkan Indonesia di posisi ke-31 dengan skor 61,31.

Secara keseluruhan, iklim bisnis Indonesia tidak bisa dibilang optimal, namun juga tidak bisa dibilang buruk. Beberapa indikator mencatatkan capaian yang memuaskan, seperti di bagian ketenagakerjaan dan layanan. Sementara itu, indikator lain seperti inovasi, regulasi perpajakan, dan kepailitan, masih memerlukan solusi yang lebih menyeluruh untuk membantu mengoptimalkan iklim bisnis tanah air.

Di sisi lain, Singapura tercatat sebagai negara yang terus menarik investasi asing. Menurut data dari Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB), 80 dari 100 perusahaan teknologi terkemuka di dunia beroperasi di Singapura. Banyak dari perusahaan teknologi yang kemudian meningkatkan investasinya di negara tersebut. Indeks Inovasi Bloomberg 2017 pun menempatkan Singapura di posisi nomor 6 dunia, tepat di atas Jepang dan Amerika Serikat.

Faktor-faktor yang menjadikan Singapura menarik bagi investor antara lain terbuka dan terkoneksi, serta adanya perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang kuat. Singapura telah menetapkan sebanyak 22 FTA bilateral dan regional, termasuk EUSFTA dan CPTPP. Transaksi multilateral ini memiliki standar tinggi untuk mempromosikan platform ekonomi dan perdagangan digital.

Meskipun demikian, Indonesia juga memiliki potensi yang besar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa total investasi perusahaan asal Singapura, BW Digital, telah mencapai US$ 28 juta hingga April 2025. Investasi ini ditujukan kepada penjualan seluruh lahan pusat data di Nongsa Digital Park. Komitmen BW Digital terhadap proyek berkapasitas 80 MW di kawasan tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap infrastruktur digital Indonesia.

Selain itu, kerja sama antara Indonesia dan Singapura terus diperkuat di berbagai sektor strategis seperti infrastruktur, jasa industri, transisi energi, kesehatan, dan fasilitas investasi. Di bidang ketenagakerjaan, kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia juga mengalami kemajuan, termasuk melalui program Tech X dan kemitraan antara perguruan tinggi.

Kerja sama sektor transportasi juga menunjukkan hasil nyata melalui perluasan konektivitas udara, seperti pengoperasian Scoot Airlines di Bandara Kertajati, serta pembukaan rute langsung ke Padang dan Labuan Bajo. Dari sisi sektor agribisnis, kedua negara melanjutkan kolaborasi pengadaan produk perikanan dan penyelesaian teknis sertifikasi elektronik.

Seiring dengan itu, kerja sama pariwisata pun semakin erat dengan promosi destinasi bersama ke pasar Eropa dan pembahasan peningkatan aksesibilitas ke destinasi wisata seperti Labuan Bajo dan Belitung.

Dengan begitu, walaupun Singapura terlihat lebih menarik bagi investor, Indonesia tetap memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Dengan peningkatan dalam regulasi, inovasi, dan infrastruktur, iklim bisnis Indonesia dapat terus diperbaiki agar lebih kompetitif di kancah internasional.

Indonesia Singapura Kerjasama Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *